Ternyata, Uang Belum Tentu Rezeki

Home / Berbagi Semangat / Ternyata, Uang Belum Tentu Rezeki

Seorang kawan bercerita, ia dan istrinya yang memang mendirikan satu usaha -sebut saja percetakan-, pernah mendapatkan uang 100 juta, hanya dalam waktu satu menit bahkan kurang. Dari mana ia dapatkan? bukankah untuk mendapat uang segitu ia harus menjual sekian barang dagangan dalam kurun waktu normal, enam sampai satu tahun? Kenapa ini bisa secepat ini? Apakah ada borongan? Tidak. Apakah ada keajaiban? Betul sekali kata suami istri tersebut, saat itu.
Anehnya, yang mereka anggap ‘keajaiban’ bukanlah rezeki seusai mereka sedekah terus dibalas oleh Allah 10 kali lipat. Bukan bukan itu. Atau seusai mereka berriyadhoh, berdoa, ngencengin shalat dhuha, ngistiqomahin tahajud, bermunajat kemudian jalan bisnisnya dibikin lancar oleh Allah. Itu semua juga bukan.

Tapi yang mereka nilai keajaiban adalah suatu siang ada orang yang tiba-tiba datang kerumah yang sekaligus menjadi kantor mereka. Orang tersebut langsung berkata: “Pak ini uangnya 100 juta, trimakasih atas kerjasamanya barang sudah nyampai dikantor kami”

Seusai suami istri tersebut kaget, saling berpandangan lalu berbisik sebentar dan diterimalah uang tersebut sepontan si suami mengeluarkan nota kosong -tanpa loga- sebagai tanda terima. Dan dalam sekian detik tamu itu mohon pamit.

Kurang lebih certianya begitu, secara persis saya tidak tahu. Tapi initinya pasutri tadi mendapatkan uang yang bukan haknya.

Nah sejurus setelah tamu itu pergi, pasutri tadi bingung, seneng, gembira, kaget, kewalahan, dag dig dug dan khawatir. lho kok ada dag dig dug dan khawatirnya juga? iya sebab mereka tahu bahwa uang tersebut adalah hak tetangganya yang sama-sama bisnis percetakan. Sehingga jelas tamu tadi adalah orang yang salah alamat karena disitu hanya ada dua rumah percetakan yang berdekatan. Itulah kenpa mereka tadi memberi nota tanda terima tanpa logo, biar tidak ketahuan.

“namun sepintar apapun kita pasti ketahuan juga” ucap suami pada istrinya. “Tapi kita butuh uang ini Mas, kita sudah telat bayar kontrakan rumah ini berbulan-bulan” istrinya menimpal

setelah terjadi sedikit perdebatan akhirnya muncullah sebuah keputusan. Mereka segera pindah, sesegera mungkin. Dengan pertimbangan praktis: uang 100 juta itu bisa untuk nutup kontrakan, mencari kontrakan baru yang tidak terdeteksi oleh terutama tetangganya -kebetulan percetakan tetangga hanya dihuni ketika jam kerja sehingga bisa disiasati- dan pasti dari uang itu ada sisa banyak yang bisa untuk modal memperbesar usaha. DENGAN UANG SEGALANYA MENJADI MUDAH, kata mereka

Intinya begitu ceritanya. Saya tidak bisa mendetailkan, yang pasti mereka segera pindah tanpa sepengetahuan tetangga. Mereka pikir dengan uang itu usaha bisa makin maju. Pakai tak tik bisnis ini dan itu jika ada modal pasti jitu.

Nah setelah mereka pindahlah drama ‘kesedihan’ dimulai oleh Allah. Karena mencari kontrakan dengan tergesa-gesa. Maka secra fisik bagus sih kontrakan mereka. Tapi baru beberapa hari disitu saat hujan agak besar ternyata jalanan banjir. “Wah disini memang bagus dan murah kontrakan tapi kalau banjir begini mana mau pelanggan pada kesini?” Kelunya. Dan saat itu juga si suami langsung bergerak untuk mencari kontrakan yang walau agak mahal yang penting representatif buat bisnis. Betul bebarapa hari kemudian mereka pindah lagi

Suadara pembaca, jangan dikira orang pindahan itu tidak capek. Capek bin lelah banget. Bayangkan harus berkemas-kemas padahal baru saja barang-barang selesai ditata, ini sudah dikemas-kemas lagi untuk pindah kedua kali, mencari mobil buat angkut, angkat-angkat barang, si kecil rewel, ngurus pindahan sekolah anak yang besar karena kebetulan pindahan kali ini lumayan jauh dan maih banyak lagi keribetan-keribetan yang tak terduga

Baru, dikontrakan yang baru inilah memang pelan-pelang usahanya makin jaya, penghasilan makin berdaya, keluarga itu makin kaya. Tapi baru beberapa bulan dikontrakan yang baru itu, anak yang kecil sakit-sakitan. Anak yang besar terbawa lingkungan nakal daerah situ. Bukan nakal sembarangan tapi mabok dikamarnya bareng teman-temangnya. Karena si anak gak bisa dipisah dengan teman-temannya. Singkat cerita pindah ke kontrakan lain. “uangnya masih cukup kok mas, untuk nyari kontrakan lagi, dari pada anak kita jadi preman kalau terus kumpul teman-teman disini” ucap istri yang belum juga sadar bahwa ia dan keluarganya sedang di pontang-pantingkan oleh Allah. Benar-benar gak sadar.

Pindahlah mereka dengan sepaket kerepotan dan keribetan khas orang pindahan rumah. Mereka sedang digelapkan oleh sisa uang 100 juta yang memang masih cukup untuk nyari kontrakan lagi. Seolah tidak ada ide lain. Mereka bukan bodoh cuma sedang dikunci otaknya oleh Allah sehingga seperti tidak ada pilihan lain kecuali pindah lagi. ah wa Allahu A’lam

Nah dikontrakan yang kesekian kali inilah muncul kesadaran:”uang sudah habis, kita sudah tidak mungkin cari pindah lagi, yuk suka duka kita jalani disini untuk memperbesar bisnis” ucap si suami yang langsung di iya kan oleh istrinya. Disitulah mereka menjalankan bisnisnya lagi sebagian aset kecil-kecilan dijual buat tambahan modal biaya marketing atau apalah istilahnya. Pelan bukan makin membesar tapi makin kocar-kacir tidak karuan. Yang dicencle pelanggan akibat telat ngirim baranglah, yang ketipulah, yang kalah persainganlah, yang inilah yang itulah. Pelan-pelan isi rumah mulai habis untuk beli beras.
ternyata uang belum tentu rezeki
Mereka kini mengaku kalah
Mereka kini mengaku salah
Mereka kini tak bisa membantah bahwa UANG ITU BUKAN REZEKI tapi CARA ALLAH UNTUK MEMPERMAINKAN mereka. Kenapa? Sebab mereka memang mempermainkanNYA

Uang belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Mobil belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Rumah belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Jodoh belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Kerjaan belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Jabatan belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Relasi belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Tanah belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Bisnis belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Lulus kuliah belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
Apapun belum tentu rezeki, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menyengsarakan kita.
jika dalam mendapatkan semua itu kita tidak melibatkanNya. Dengan apa? Doa dan mentaati syariatNya

dikutib dari buku TERAPI REZEKI oleh Riyadh Ahmad

Showing 2 comments
  • bray nugroho

    Alhamdulillah masih terus bersyukur…ternyata ga selamanya harta bisa menenangkan jiwa kita lhoo..yang penting bersyukur..

  • ebook teknisi

    Terimakasih, semoga Allah selalu membimbing kita untuk selalu mengingat dan dekat dengan-Nya dan juga Rasul-Nya.. Amiin

Leave a Comment